Jembatan Putus Diterjang Banjir, Bupati Sarolangun Siapkan Solusi Darurat Perahu Ketek dan Rencana Rehabilitasi
SAROLANGUN— Dampak banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sarolangun tak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga memutus akses vital antar desa. Sejumlah jembatan gantung dilaporkan rusak berat hingga terputus, menghambat mobilitas masyarakat, khususnya di Kecamatan Bathin VIII.
Bupati Sarolangun, H. Hurmin, turun langsung meninjau kondisi infrastruktur yang terdampak pada Rabu (29/4/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Beberapa jembatan gantung yang mengalami kerusakan parah di antaranya berada di Desa Tanjung Gagak, Muaro Lati, dan Pulau Melako. Selain itu, kerusakan serupa juga terjadi di Desa Bukit Berantai (Kecamatan Batang Asai) serta Desa Pulau Aro (Kecamatan Pelawan). Putusnya jembatan-jembatan tersebut menyebabkan aktivitas warga terganggu, terutama untuk akses pendidikan, ekonomi, dan layanan kesehatan.
Dalam dialog bersama para kepala desa dan tokoh masyarakat setempat, pemerintah daerah bersama warga merumuskan langkah penanganan darurat. Untuk sementara waktu, disepakati penggunaan perahu ketek sebagai sarana transportasi pengganti.
“Dalam kondisi saat ini, kita harus mencari solusi yang cepat dan bisa langsung dimanfaatkan masyarakat. Salah satu alternatif yang disepakati adalah pembuatan perahu ketek desa,” ujar Hurmin di sela peninjauan.
Ia menjelaskan, perahu tersebut akan dibangun secara swadaya oleh masyarakat dengan semangat gotong royong, menggunakan bahan kayu yang mudah diperoleh. Proses pembuatannya ditargetkan berlangsung cepat agar segera dapat digunakan sebagai akses penyeberangan sementara.
“Ini solusi jangka pendek yang realistis. Sambil berjalan, pemerintah daerah akan menyiapkan langkah penanganan jangka panjang terkait pembangunan kembali jembatan yang rusak,” tambahnya.
Di sisi lain, Bupati juga menyoroti dampak banjir terhadap permukiman warga. Selain merendam rumah, bencana tersebut menyebabkan sejumlah bangunan mengalami kerusakan serius. Di Desa Tanjung Gagak, satu unit rumah dilaporkan hancur, sementara di Desa Pulau Buayo beberapa bagian dapur rumah warga rusak akibat derasnya arus air.
Tak hanya itu, sektor pendidikan turut terdampak. Hurmin mengungkapkan adanya kerusakan fasilitas di salah satu sekolah dasar, termasuk buku-buku pelajaran dan perabotan belajar yang tidak lagi layak pakai.
“Kondisi ini menjadi perhatian serius. Untuk fasilitas pendidikan, kita akan upayakan penanganannya dalam tahun ini. Apalagi sebelumnya kita sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan,” katanya.
Sementara untuk rumah warga yang mengalami kerusakan berat, pemerintah daerah tengah mengkaji skema bantuan melalui program bedah rumah maupun Belanja Tidak Terduga (BTT). Langkah ini diharapkan dapat membantu percepatan pemulihan kondisi masyarakat pasca bencana.
Hurmin menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen untuk hadir secara menyeluruh dalam penanganan dampak banjir, mulai dari pemulihan infrastruktur, bantuan sosial, hingga perlindungan sektor pendidikan dan hunian warga.
“Ini bukan hanya soal membangun kembali yang rusak, tetapi memastikan masyarakat bisa kembali beraktivitas dengan aman dan layak. Kita akan upayakan penanganan secara bertahap namun terukur,” tegasnya.
Kunjungan lapangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memastikan setiap kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat di lapangan. Dengan kolaborasi antara pemerintah dan warga, diharapkan proses pemulihan pasca banjir dapat berjalan lebih cepat dan efektif.(IKP-KOMINFO)