INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN 2020

  • Senin, 07 Juni 2021 - 10:03:59 WIB
  • FIR
INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP  KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN 2020

Sarolangun -  Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) merupakan gambaran atau indikasi awal yang memberikan kesimpulan cepat dari suatu kondisi lingkungan hidup pada lingkup dan periode tertentu. 
Indikator kualitas lingkungan yang digunakan untuk menghitung IKLH terdiri dari 3 (tiga) indikator, yaitu: Indikator Kualitas Air (IKA) yang diukur berdasarkan parameter TSS, DO, BOD, COD, Total Fosfat, Fecal Coli dan Total Coliform; Indikator Kualitas Udara (IKU) yang diukur berdasarkan parameter-parameter SO2 dan NO2; dan Indikator Kualitas Tutupan Lahan (IKTL) yang diukur berdasarkan luas tutupan lahan (Hutan Primer dan Hutan Sekunder).
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.78/MENLHK/SETJEN/SET.I/2016 Tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan IKLH kabupaten/kota =  (30% X IKA) + (30% X IKU) + (40% X ITH) mengalami perubahan  menjadi IKLH kabupaten /kota = (0,376 X IKA)+ (0,405 X IKU)+ (0,219 X IKTL)berdasarkan surat dari Direktorat Jenderal Pengndalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Nomor S.318/PPKLH/SET/REN.O/12/2020 Perihal Metode Perhitungan IKLH 2020-2024 tertanggal 4 Desember 2020.

Indikator kualitas lingkungan yang digunakan untuk menghitung IKLH terdiri dari 3 (tiga) indikator, yaitu: Indikator Kualitas Air (IKA) yang diukur berdasarkan parameter TSS, DO, BOD, COD, Total Fosfat, Fecal Coli dan Total Coliform; Indikator Kualitas Udara (IKU) yang diukur berdasarkan parameter-parameter SO2 dan NO2; dan Indikator Kualitas Tutupan Lahan (IKTL) yang diukur berdasarkan luas tutupan lahan (Hutan Primer dan Hutan Sekunder).

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.78/MENLHK/SETJEN/SET.I/2016 Tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan IKLH kabupaten/kota =  (30% X IKA) + (30% X IKU) + (40% X ITH) mengalami perubahan  menjadi IKLH kabupaten /kota = (0,376 X IKA)+ (0,405 X IKU)+ (0,219 X IKTL)berdasarkan surat dari Direktorat Jenderal Pengndalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Nomor S.318/PPKLH/SET/REN.O/12/2020 Perihal Metode Perhitungan IKLH 2020-2024 tertanggal 4 Desember 2020.

 

Indikator dan Parameter
1.    Kualitas Air Sungai
Untuk Pemantauan Kualitas Air Sungai di Kabupaten Sarolangun Tahun 2020, metode yang digunakan adalah observasi/ surveI lapangan meliputi penentuan titik sampling air, pengukuran parameter lapangan dan pengambilan sampel air. Pengambilan sampel air menggunakan metode Grap Sample (sesaat) serta analisis laboratorium. Lokasi pemantauan kualitas air sungai berada pada 6  (enam) titik pantau sungai, yaitu Sungai Batang Tembesi Hulu, Sungai Batang Tembesi Hilir, Sungai Batang Asai Hulu, Sungai Batang Asai Hilir, Sungai Batang Limun Hulu, dan Sungai Air Hitam.

2.    Kualitas Udara
Dalam rangka pengendalian pencemaran udara, Provinsi Jambi melalui DLH Kabupaten Sarolangun melakukan Kegiatan pemantauan kualitas lingkungan udara dengan metode  Passive Sampler.Jumlah lokasi yang dicuplikan sebanyak 8 titik dengan sebanyak 2 kali (April, Oktober). Lokasi pemantauan terdiri dari: Daerah padat transportasi (jalan utama yang lalu lintasnya padat), Daerah/ kawasan Industri (bukan industrinya), Pemukiman padat penduduk  (urban background), dan Kawasan komersil (perkantoran yang tidak terpengaruh langsung transportasi). Parameter yang diamati adalah gas hasil pembakaran bahan bakar fosil dan fasilitas industri lainnya (Sulfur dioksida, SO2) dan senyawa Nitrogen dioksida (NO2).

3.    Tutupan Hutan
Hutan merupakan salah satu komponen yang penting dalam ekosistem. Selain berfungsi sebagai penjaga tata air, hutan juga mempunyai fungsi mencegah terjadinya erosi tanah, mengatur iklim, dan tempat tumbuhnya berbagai plasma nutfah yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tutupan Hutan Hutan merupakan salah satu komponen yang penting dalam ekosistem. Selain berfungsi sebagai penjaga tata air, hutan juga mempunyai fungsi mencegah terjadinya erosi tanah, mengatur iklim, dan tempat tumbuhnya berbagai plasma nutfah yang sangat berharga bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan data dari program Menuju Indonesia Hijau (MIH), klasifikasi hutan terbagi atas hutan primer dan hutan sekunder. Hutan primer adalah hutan yang belum mendapatkan gangguan atau sedikit sekali mendapat gangguan manusia. Sedangkan hutan sekunder adalah hutan yang tumbuh melalui suksesi sekunder alami pada lahan hutan yang telah.


Sumber Data: Laporan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Tahun 2020 Kab. Sarolangun, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sarolangun, Tahun 2021

  • Senin, 07 Juni 2021 - 10:03:59 WIB
  • FIR

Berita Terkait Lainnya